Monday, December 8, 2014

Mana Pergi Tanah Kami


Dulu...
Kami bisa bergerak bebas
Tiada apa yang membatas
Betapa indah permainya kampung kami
Terasa nyaman udara dan sejuk air di kali
Di situ kolam tempat mengail haruan dan keli
Tiada siapa yang ambil peduli
Disini, sawahnya sawah milik kami
Disana, dusun milik saudara kami
Ulam-ulaman segar kami petik sendiri
Segalanya percuma, tak payah di beli
Anak kecil gembira mengutip biji getah
Buat bermain seharian sampai lelah
Tiada siapa yang ambil endah
Kerana tanah ini
Tanah warisan ayah

Tapi kini...
Kenapa kami bagai sudah tiada tempat
Kenapa kami pula yang terpaksa merempat
Di usir  keluar dari kampung halaman sendiri

Katanya tanah ini sudah pemaju beli
Pusat peranginan bakal didiri untuk si kaya berlibur
Gedung membeli belah buat para korporat melabur

Kondo mewah tak mampu kami miliki
Lalu kata mereka, tiada wang sila pergi
Jangan berani nak berangan lagi
Cari lah daerah lain buat kamu menghuni

Mereka jual tempat tinggal kami
Mereka rampas tanah rizab kami
Mereka pijak-pijak hak kami
Mereka mungkir pada janji
Mereka penuhi kantung mereka sendiri
Hak kami mereka tidak peduli
Kata mereka tempat ini perlu pembangunan
Kerajaan tak mampu laku sendirian 
Pemodal itu bisa beri kita pekerjaan
Serah pada yang mampu biayai pembangunan
Tidak tahan
Nah kamu pulang saja ke hutan

Lalu kami harus bagaimana
Dipaksa membisu seribu bahasa
Harus gembira melihat bangunan tinggi menjulang
Dalam sebak dada
Menangisi tanah pusaka yang hilang
Nasib kami malangnya aduhai
Ibarat Pak Kadok
Menang sorak kampung tergadai
Dari kejauhan cuma mampu mengintai
Hampa kecewa, air mata berderai
Duduk mengimbau kenangan silam
Mata memandang mulut terdiam




-Cetusan Rasa Alhambra
5 Disember 2014



Sunday, December 7, 2014

Si Bahlul Yang Tolol



Bila si tolol berbicara
Ada kala menyakitkan telinga
Ilmu cuma sejengkal dua 
Berhujah bagaikan pendeta
Buku rujukan malas dibaca
Nasihat ulama enggan menerima
Menurut telunjuk sang pendusta
Memutar lidah bermuka-muka

Jangan begitu hai si bahlul
Tiap tutur perlu ada asasnya
Bukan menurut nafsu semata 
Harus berpandu hukum agama
Baru teratur sempurna makna

Aku bosan, cuak dan benci
Mendengar bicara dari bukan ahli 
Berkata kesat keji mengeji
Ilmu cetek berhidung tinggi
Baiklah aku menulikan diri
Dari kata-kata menyakitkan hati
Atau kah aku harus mengurung diri
Mencari damai dalam Al Kahfi
Mengabdi diri bagaikan sang sufi
Agar dapat ku mensucikan hati
Memohon hidayah dari Ilahi
Agar selamat dari fitnah menyesatkan ini.

-Cetusan Rasa Alhambra
6/12/2014